Kamis, 28 Februari 2019

Manfaat penggunaan Grease Polyurea


Ketika kita berpikir untuk beralih dari pelumas grease lithium-kompleks ke pelumas grease polyurea untuk melumasi beberapa komponen mesin, maka perlu diperhatikan keuntungan atau kerugian menggunakan pelumas grease polyurea di atas pelumas grease lithium- kompleks. Mari kita bahas bersama.



Ketika membandingkan grease poliurea dengan grease lithium- kompleks, kelemahan terbesarnya adalah bahwa pengental /thickener polyurea sangat tidak kompatibel dengan thickener lithium- kompleks. Ketidakcocokan ini dapat menyebabkan pengerasan atau pelunakan minyak. Pelunakan gemuk dapat menyebabkan beberapa masalah, seperti tidak memungkinkan pelumasan rol yang tepat /tidak merata. Pengerasan grease dapat menyebabkan masalah yang lebih buruk, karena grease tidak dapat lagi mengalir ke rongga bearing / bantalan, menyebabkan kekeringan dan aus.

Namun, thickener / pengental polyurea memang menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan pengental litium. Berikut keunggulannya :
  • Grease polyurea merupakan pilihan yang lebih disukai untuk aplikasi yang disegel seumur hidup ( sealed for  life ) yang artinya untuk pemakaian jangka panjang dan tidak diperlukan penambahan grease lagi.
  • Grease ini memiliki suhu operasi yang tinggi,
  • Sifat antioksidan yang melekat,
  • Stabilitas termal yang tinggi dan ketahanan yang stabil
  • Karakteristik yang tidak mudah pecah.
  • Grease ini juga memiliki dropping point sekitar 270 derajat C (518 derajat F).
  • Formulasi grease ini tidak didasarkan pada pengental sabun / thickener soap logam seperti grease lithium, yang dapat meninggalkan endapan yang lebih basah ketika digunakan, maka polyuria grease biasanya menjadi pilihan pelumasan yang disukai untuk motor listrik.
  • Rata-rata grease polyurea memiliki jangka pemakaian tiga hingga lima kali lebih baik daripada grease berbasis lithium.



Di sisi lain, lithium- kompleks adalah pengental / thickener yang paling umum di pasaran yaitu hampir 60 persen dari grease industri.  Statistik kompatibilitas menunjukkan sebagian besar jenis grease menggunakan thickener/ pengental yang kompatibel dengan grease type lithium-kompleks. Maka dari itu grease type lithium-kompleks menjadi pilihan utama pengental / thickener untuk sebagian besar produsen peralatan. Pelumas kompleks Lithium umumnya menawarkan stabilitas yang baik, karakteristik suhu tinggi dan beberapa sifat tahan air.


Baik grease polyurea dan lithium-kompleks memiliki kelebihan dan kekurangannya, jadi pastikan untuk memeriksa kompatibilitas dan viskositas masing-masing produk terlebih dahulu. Grease polyurea dapat bermanfaat dalam lingkungan yang lebih basah / lembab dan dalam aplikasi di mana masa pakai grease diharapkan dalamwaktu yang lebih lama. Tekanan ekstrim (EP) dan aditif antioksidan dapat dicampur untuk membantu mencapai umur yang lebih lama dan keandalan peralatan. Tentu saja, aplikasi dan karakteristik grease yang diinginkan akan mempengaruhi jenis thickener/pengental mana yang harus dipergunakan.


Rabu, 22 November 2017

Grease Konduktif untuk jaringan electrical ( Electrical Conductive Grease )



Fungsi utama grease adalah untuk pelumasan yang berbentuk pasta. Pelumasan grease digunakan saat pelumasan dalam bentuk liquid / oli tidak memungkinkan digunakan. Komponen utama grease yaitu base oil, additive & thickener ( pengental ). Pelumasan grease memungkinkan digunakan pada semua lokasi aplikasi.

Pada jaringan elektrikal juga diperlukan pelumasan dengan fungsi utama untuk anti karat, pendingin dan melindungi dari kontaminan seperti air, debu, uap, kimia asam dan lain-lain. Di sini kita akan membahas electrical grease yang bersifat konduktif.

Grease yang bersifat konduktif dan compound anti-seize memiliki thickener / campuran bubuk logam dasar yang tersuspensi dalam base oil. Bubuk logam yang tersuspensi inilah yang menyebabkan sifat konduktif.

Hanya saja pada konduktif grease komponen additive & campuran logam lebih dititikberatkan pada daya hantar listrik dan panas, serta meminimalkan induksi, corona discharge & electical arching sehingga lost factor arus listrik lebih sedikit dan arus lebih maksimal sedangkan compound anti seize lebih dititikberatkan pada ketahanan terhadap suhu tinggi.

Teori cara kerja konduktif grease adalah base synthetic oil mengikat additive & bubuk logam untuk melindungi permukaan jaringan elektrikal.
Base synthetic oil yang paling banyak digunakan yaitu silicone oil atau PFPE ( PerflouroPolyEther ) yang memiliki kelebihan sebagai berikut :

  • daya long life lubricant ( pelumasan jangka panjang ), 
  • memiliki konsistensi tinggi sehingga tidak mudah bercampur dengan air, debu, zat kimia asam
  • meredam karat & panas yang lebih baik dari mineral oil
  • kompatibel dengan semua material termasuk karet, plastik, logam & polimer.
  • Non-flamable.
  • Memiliki daya tahan suhu tinggi ( rata-rata sampai -55 to +260 deg celcius )
Proses kombinasi base synthetic oil dengan thickener ini sangat rumit, tidak semudah base mineral oil. Bubuk logam yang paling banyak digunakan yaitu perak / silver dan carbon black
Perak memiliki daya hantar paling bagus diantara logam lainnya, namun harganya sangat mahal. Maka untuk alternatif harga yang lebih murah dibuat kelas konduktif di bawahnya yaitu carbon black.



Selasa, 26 September 2017

TECCEM Fluoronox MS 30/2 - Synthetic Multipurpose Grease H1 registered


Teccem Fluoronox MS 30/2 adalah synthetic grease based on a medium viscosity Perfluoropolyether. Diformulasikan untuk industri yang memiliki suhu operasional -45°C and +230°C dan pemakaian periodik + 260 °C

Fluoronox MS 30/2 memiliki dengan thickener PTFE ( Teflon ) yang memiliki tingkat friksi sangat rendah sehingga sangat aman untuk lubrikasi material metal, plastik dan elastomer. 

produk sekelasnya adalah Molykote HP 500.
Karakteristik :
Tidak berbau
oxidation resistant
Non-flammable ( Melting point : 325 °C ) tahan terhadap asam kuat & solvent Tidak menimbulkan noda carbon & kerak (free of carbonising substances ) kompatible dengan hampir semua jenis grease lain.
Telah memiliki sertifikat NSF H1 jadi aman digunakan pada industri makanan & minuman.

Aplikasi :

Roller bearings, sliding metal parts, plastics, elastomers, from low to high temperatures. 
Dapat digunakan sebagai barrier grease, protecting film dan sebagai sealing grease pada mold.

Spesifikasi PDS : http://www.teccem.de/Fluoronox_MS30_2_e.htm

Typical technical data

Product Name
MS 30/2

NLGI grade (DIN 51818)

2

Pour Point, of base fluid
(°C)
(°F)


-50
-58

Viscosity Index, of base fluid

190

Density, g/ml @20°C (68°F)

1.88

Flash Point

none, nonflammable

Colour

white

Base Fluid

Perfluoropolyether

Thickener

PTFE

Base Fluid Viscosity, [mm2/s]

 
@20°C (68°F)
381
@38°C (100°F)
140
@100°C (212°F)
20

Maximum evaporation loss, % in 24h @200°C

0.8

Recommended temperature range, [°C]

-45/+230

Rabu, 23 Agustus 2017

Cara memilih oli mesin industri yang baik.



Untuk memilih pelumas yang sesuai dengan kendaraan, tingkat vikositasnya harus disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan ( Original Equipment Manufacturer / OEM ). Hal ini untuk menjamin usia pakai mesin yang telah dirancang oleh pabrikannya. Tingkat viskositas utamanya direkomendasikan berdasarkan temperature lingkungan dan temperature saat pertama menghidupkan mesin ( start ).

Suhu operasional sebuah oli mesin baisanya tidak berubah dengan signifikan walaupun pada suhu lingkungan yang berbeda. Jadi tetap harus disesuaikan dengan jenis aplikasi mesin yang digunakan.
Perbedaan utama tingkat viskositas “W” ini berhubungan dengan starting temperature. Hal ini akan menjelaskan tentang kekentalan pelumas, daya dorong dan kesiapan untuk melumasi mesin. Oli mesin dengan grade 5W biasanya dapat mengalir dengan baik pada suhu lebih rendah dibandingkan dengan grade 15W lebih sesuai untuk daerah tropis. Seperti negara tropis di Indonesia memiliki suhu berkisar 27 - 33 C dengan suhu malam hari 23- 27 C.

Pada daerah beriklim tropis, kebanyakan pabrikan merekomendasikan produk yang multi-grade seperti SAE 15W40, karena pelumas dapat mengalir dengan baik pada mesin dibandingkan dengan oli yang murni SAE 40 walaupun saat start suhu disekitarnya lebih tinggi.

Hal lain yang perlu diperhatikan saat memilih oli mesin yaitu sertifikasi kualitas atau performance level, seperti standard API ( American Petroluem Institute ). Pada mesin diesel menggunakan sertifikasi kualitas dengan kode huruf “ C” yang diikuti dengan huruf berikutnya yang melambangkan level performance nya. Untuk jelasnya bisa dilihat pada artikel sebelumnya.

Pada pemakaian lainnya, bisa digunakan grade 5W jika sebelumnya grade 10W atau 15W direkomendasikan agar proses pelumasan pada komponen mesin lebih cepat saat start. Walaupun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti bahan dasar atau base oil 5W memang lebih encer, hal ini bisa menyebabkan menguapan lebih besar dibandingkan oli 10W atau 15W. Harga oli grade 5W jauh lebih mahal dibanding 15W. Penurunan yang lebih cepat additive viskositas improver dalam formula oli, hal ini berdampak pada jangka waktu pergantian oli jadi lebih pendek.

Anda juga bisa memilih oli synthetic dengan viskositas & kualitas yang sama. Pada umumnya pelumas full synthetic memiliki daya bersih dan perlindungan terhadap mesin yang jauh lebih baik. Namun hal ini kadang tidak diperbolehkan oleh pabrikannya menyangkut komponen lainnya dan material dalam mesin seperti karet seal & logam lain yang sensitive.
Pada umumnya SAE 15W lebih direkomendasikan pada iklim tropis.
Berikut ilustrasi berdasarkan tingkat SAE yang bisa digunakan untuk acuan umum pada pemilihan viskositas dan suhu lingkungan :



Selasa, 22 Agustus 2017

Total Carter EP - Gear Oil dengan performa tinggi


Tim Research & Development Total Oil yang berpusat di Perancis telah membuat formulasi khusus untuk mendapatkan jenis pelumas yang berkualitas dengan taraf international. Total Carter EP merupakan pelumas khusus untuk gear dengan performa tinggi yang dikembangkan dengan teknologi terbaru.

Total Carter EP merupakan pelumas dengan kualitas premium untuk industrial gear lubricant yang dirancang untuk memberikan layanan excellent Extreme Pressure ( EP ) dan properties load carry yang sangat baik.
Formulasi bahan dasar oli ( base oil ) pilihan yang dikombinasikan dengan teknologi bahan kimia terbaru yaitu Sulfur-Phosporus yang memiliki manfaat sebagai berikut :

  • Membuat gear tidak mudah panas
  • Meningkatkan anti-wear, tidak mudah aus
  • Lapisan film pelumas yang Extreme Pressure ( EP )
  • Menurunkan tingkat gesekan ( metal to metal contact )
  • Kompatible dengan semua elastomer & seal
  • Efesiensi energi yang dibutuhkan
  • Karakteristik anti-foam, tidak mudah berbusa
  • Tingkat oksidasi yang lebih stabil & ketahanan terhadap suhu, sehingga usai pakai jadi lebih panjang
  • Menahan terjadinya karat & korosi

Berikut spesifikasi international yang sudah didapat Carter EP :

  • AGMA 9006 -D94EP
  • ISO 12925-1 CKD
  • DIN 51517 Part 3 - Group CLP
  • AISI 224
  • AFNOR NFE 60.200 - Category CKC
  • CINNCINATI MILACRON P-74 (ISO 220) and P-59 (ISO 320)
Berikut approval pabrikan yang didapat Carter EP :
  • US STEEL 224
  • DAVID BROWN ET 33/80
  • FLENDER
  • SEB 181226
Berikut type karakteristik Carter EP :

Rabu, 09 Agustus 2017

Viskositas dalam gear oil - SAE, ISO atau AGMA ?


Viskositas merupakan bahasa yang lebih mudahnya untuk memahami tingkat kekentalan sebuah cairan, dalam hal ini kita membahas tentang pelumas oli. Ada beberapa cara untuk mengukur tingkat viskositas oli. Pada artikel sebelumnya secara umum telah membahas klasifikasi SAE & ISO.
Khusus untuk oli gear industri Total Oil menggunakan 3 ketetapan internasional yang sering dipakai, yaitu SAE, ISO dan AGMA.

Mari kita mambahasnya satu per satu :

1. ISO ( International Standardization Organization )

ISO yang berpusat di Jenewa - Swiss merupakan perkumpulan independen ilmuwan internasional yang membahas khusus tentang standard teknologi, industri, service & safety. Hampir semua oli menggunakan ketetapan international ini, karena ketetapan ini berlaku sebagai standard umum untuk semua jenis pelumas. Biasanya orang pelumas industri lebih familiar dengan sebutan ISO VG ( ISO Viscosity Grade ).

2. SAE ( Society of Automotive Engineerings )

Banyak dari kita yang sudah mengenal ketetapan SAE, terutama untuk oli mesin ( engine oil ). Pada gear oil juga kadang menggunakan ketetapan ini seperti yang kita kenal pada gear transmisi, axle / gardan, diffrential & coupling. Contohnya pada transmisi SAE 80, SAE 90 & SAE 140.

3. AGMA ( American Gear Manufacturers Association )

AGMA merupakan ketetapan khusus yang dibuat untuk produk gear, meliputi material/bahan, ukuran, fungsi termasuk pelumas pada gear. Pada oli gear industri ketetapan yang digunakan adalah standard AGMA 9005 - D94.

Pada pembuat gear dan oli mungkin hanya menyertakan salah satu dari standard di atas. Untuk memudahkan ada tabel persamaan yang digunakan. Misalnya oli dengan SAE 90 bisa disetarakan dengan AGMA 5 dan ISO 220.

Berikut tabel persamaa untuk gear oil :


Senin, 07 Agustus 2017

Total Nateria MH 40 - Gas engine oil SAE 40


Total Neteria MH 40 merupakan jenis pelumas untuk mesin berbahan bakar gas dengan kadar abu rendah ( low ash > 5% ). Jenis gas alam seperti CNG, LPG dan sejenisnya. Pelumas ini banyak digunakan pada mesin pembangkit listrik tenaga gas.

Total Nateria MH 40 diformulasi khusus dari minyak bumi dengan standard ketahanan terhadap suhu, nitrasi dan oksidasi. Kadar abu redah ( low ash 5%) membuat mesin gas menjadi lebih maksimal dalam pembakaran, perlidungan mesin dari dampak gas dan tingkat kebersihan oli yang sangat optimal sehingga usia pakai oli lebih maksimal.

Additive khusus yang dirancang untuk perlindungan dengan properties antiwear & antikorosi dengan tingkat batasan tertentu yang menjamin kompatible dengan system emisi gas buang mesin.

Berikut approval manufacturer yang telah merekomendasikan Total Nateria MH 40 :

  • CATERPILLAR (séries 3300 à 3500) 
  • GE 
  • JENBACHER 
  • MDE 
  • MTU 
  • MWM 
  • PERKINS 
  • WAUKESHA (APG 2000/3000) 
  • WARTSILA (220 SG)
Berikut properties dari Total Nateria MH 40 :
 source : http://www.total-distributor-partners.com/media/18200/nateria_mh_40_-_04.2012.pdf